Berdusta Tanpa Kita Sadari

3 min


Kemajuan yang dicapai zaman ini menghadirkan beragam kemudahan. Salah satunya adalah kemudahan dalam mengakses dan menyebarkan informasi. Setiap hari bahkan setiap waktu, melalui media cetak maupun elektronik kita leluasa mengakses informasi itu. Dengan alat komunikasi yang tak kalah canggihnya, kita pun dengan mudah menyebarkan informasi itu.

Disatu sisi kemudahan ini menjadi karunia tersendiri. Namun disisi lain kita juga pantas khawatir dan was-was, pasalnya tak jarang kemajuan justru menjadi awal dari satu petaka dan bencana besar. Kenapa demikian, sebab tidak semua informasi yang beredar benar adanya. Dan tidak semua informasi yang benar memberikan maslahat ketika menyebarkannya.

Islam sebagai satu-satunya rujukan dalam menata kehidupan ini telah mengantisipasi hal itu. Islam dengan sempurna telah menyediakan aturan dalam menerima dan menyebarkan informasi. Dengan komitmen pada aturan ini, kemudahan-kemudahan yang kita capai saat ini tetap menjadi anugrah yang akan memberikan pengaruh positif dalam kehidupan kita di dunia dan di akhirat kelak.

Makna Hadits

Hadits ini merupakan arahan dari Nabi dalam menyebarkan informasi. Di dalamnya terkandung larangan menceritakan setiap yang kita dengar. DR. Abdul Aziz Assadhan berkata; “Di dalam Hadits ini terkandung peringatan dari banyak berbicara dan peringatan bahwa banyak bicara terkadang menyeret pelakunya pada kedustaan dengan menambahi apa yang didengarnya.”

Memang, terkadang seseorang berdusta bukan karena sengaja berdusta. Kedustaan sering terjadi disebabkan adanya penambahan atau pengurangan ketika menyampaikan atau menyebarkan informasi yang didengar.

Kedustaan juga bisa terjadi karena informasi yang kita dengar tidak semuanya benar. Sehingga ketika kita menceritakan semua yang didengar, maka mesti akan bercampur antara yang benar dan yang dusta. Imam Nawawi berkata, “Seseorang biasanya mendengar kebenaran dan kedustaan, maka ketika ia menceritakan semua yang didengarnya pasti ia akan berdusta.” Karenanya dalam riwayat yang lain disebutkan, “Cukuplah menjadi kedustaan seseorang ketika ia menceritakan segala apa yang didengarnya.” (H.R. Muslim)

Tentu tak seorang pun di antara kita yang ingin berpredikat pendusta. Oleh karena itu, untuk menjauhi titel pendusta tidak cukup dengan menghindari berdusta secara langsung. Kita juga mesti menjauhkan lisan kita dari banyak berbicara. Ternyata, banyak berbicara adalah sarana yang menjerumuskan kita pada perbuatan dusta. Tak heran jika Nabi mewanti-wanti ummatnya agar tidak asal menukil satu informasi yang tidak jelas sumber dan asalnya. Dalam satu Hadits diterangkan bahwa sesungguhnya Allah SWT meridhai tiga perkara dan membenci tiga perkara. Di antara perkara yang dibenci oleh Allah adalah menngucapkan katanya dan katanya.

Hati-Hati dengan Isu

Saat ini, satu isu dengan mudahnya bisa beredar luas. Dan umumnya, isu itu selalu mengundang daya tarik dan penasaran bagi yang mendengarnya. Akibatnya, sebagian orang kerap terjebak untuk membicarakan dan menyebarkan isu-isu itu. Beredar luasnya satu isu sangatlah mengkhawatirkan. Isu-isu ini jika tidak bisa dikelola dengan baik tentu akan menimbulkan dampak negatif. Tak jarang, konflik yang terjadi justru sering disulut oleh isu yang sedikit pun tidak mengandung nilai kebenaran.

Kita tentu ingat dengan qissatul ifki (kisah dusta) yang dirancang oleh orang munafik. Orang munafik mengisukan bahwa ‘Aisyah telah berzina. Isu inilah yang dengan sekejap menjadi buah bibir sebagian warga Madinah. Bahkan di antara sahabat ada yang terpancing ikut menceritakan isu ini sehingga menerima hukuman. Padahal, yang merekayasa kisah ini adalah orang-orang munafik yang sangat benci kepada Islam.

Ini adalah fakta sejarah yang menunjukkan betapa berbahayanya menyebarkan setiap informasi yang kita dengar tanpa selesai. Bahaya semakin mengerikan karena sebagian besar media dikuasai oleh orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Tentu misi yang mereka emban dalam menyebarkan informasi tidak jauh dengan misi pendahulunya.

Ucapkan yang Baik atau Diam

Lisan adalah organ tubuh yang sangat penting. Melalui lisan seorang dinyatakan beriman dan melaui lisan pula seorang bisa divonis sebagai orang kafir. Lisan sering kali menjalankan peran-peran penting untuk sesuatu yang sangat prinsip dalam hidup kita.

Karena itu, sebagai orang beriman tentu harus bisa menggunakan lisannya dengan baik. Salah satu bentuk refleksi keimanan adalah mengatakan yang baik. Dalam Hadits Rasulullah bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” Bentuk kebaikan yang mesti diserukan sebagaimana firman Allah, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia…” (An-Nisa: 114)

Inilah prinsip utama seorang Muslim dalam hidupnya sekaligus sebagai ukuran kapan kita berbicara dan kapan diam. Patuh pada aturan ini akan menyelamatkan kita dari jebakan-jebakan setan. Rasulullah pernah berkata, “Siapa yang bisa menjamin kemaluannya dan lisannya, maka aku akan menjamin untuknya surga.” (H.R. Bukhari)

Bebas Bicara Bebas Berdusta

Saat ini masyarakat Muslim dipaksa untuk menerima paham demokarasi. Sebagian di antara aktifis dakwah akirnya terbawa arus, dan memposisikan dirinya sebagai pejuang dan pembela demokrasi. Padahal, antara demokrasi dan Islam sangatlah berlawanan. Salah satu muatan dalam demokrasi yang sering diperjuangkan oleh para pengasongnya adalah kebebasan berbicara, mendapatkan dan menyampaikan informasi. Sekilas hal ini sangat menjanjikan. Namun, jika dicermati sangatlah berbahaya.

Manusia tidak bisa bebas secara mutlak. Manusia masti terikat dengan aturan yang telah dibuat pelh sang Pencipta. Termasuk dalam menerima dan menyenbarkan informasi. Karenanya, seruan kebebasan yang digaungkan oleh para pengagum demokrasi merusak tatanan hidup bermasyarakat. Hal itulah yang pelan-pelan mencuat ke permukaan. Masyarakat tanpa disadari terlalaikan dari hal-hal yang penting. Mereka sibuk mengamati, membincangkan isu yang berkembang, namun lalai dalam mempelajari ajaran agamanya yang sebenarnya sangat ia butuhkan.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh demokrasi dan ketidakberdayaannya dalam menyelesaikan problematika ummat, memberi pesan kepada kita semua bahwa tidak ada pengatur yang baik selain daripada Islam. Bagi orang beriman pasti tidak akan melirik dan menyentuh aturan-aturan lain, meski hanya dengan ujung jarinya. Karena mereka yakin, Islam adalah pengatur hidup yang dibuat oleh Zat yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui semua yang dibutuhkan Makhluk-Nya.


Like it? Share with your friends!

0
Zainal A.

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *