Jangan Tergesa-gesa Ingin Melakukan dan Mendapatkan Sesuatu

2 min


Assalamu’alaikum…

Di antara ujian hidup adalah bagaimana melawan sifat tidak baik yang ada dalam diri kita yang seringkali disebutkan itu manusiawi sebagai mana sering diungkapkan; adalah manusiawi jika membalas keburukan, padahal manusia yang beriman dituntut agar saling memaafkan.

Di bagian akhir ayat Al-Israa’ ayat 11 Allah menegaskan bahwa di antara sifat tidak baik yang tertanam diri kita adalah sikap tergesa-gesa yang bahkan diungkapkan oleh Allah SWT dengan kata Ajuul, sangat atau suka tergesa-gesa. Di samping sebagai watak yang tertanam, tergesa-gesa juga menjadi bagian dari virus kesesatan yang disebarkan oleh setan dikalangan manusia, Rasulullah SAW bersabda: “Sikap santai adalah dari Allah dan tergesa-gesa adalah dari setan.” (H.R. Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al–Kubro, Kitab Aadaab al-Qadli)

Sikap tergesa-gesa ini muncul dan menjadi pengungkit beberapa sikap antara lain:

Ingin Agar Permohonannya Terkabul

Seperti yang disebutkan dalam firman Allah SWT, surat Al-Israa’ ayat 11; “Dan manusia memohon untuk keburukan sebagaimana ia memohon untuk kebaikan. Dan adalah manusai bersifat tergesa-gesa.”

Imam Az Zamakhsyari menjelaskan: “Pada saat marah, manusia memohon agar Allah SWT menimpakan keburukan pada diri, keluarga, dan hartanya seperti pada saat senang ia memohon kebaikan untuk semuanya sebagaimana dalam firman Allah SWT yang artinya; “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka…” (Surat Yunus, ayat: 11)

Rasulullah SAW bersabda; “Salah seorang kalian akan dikabulkan do’anya selagi tidak tergesa-gesa dengan mengatakan. Aku sudah berdo’a tetapi tidak pernah dikabulkan”.

Ingin Segera Melakukan Sesuatu Padahal Belum Mampu

Hal ini telah dilakukan oleh Nabi Adam AS ketika menafsirkan Surat Al-Israa’ ayat 11 ini. Imam Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Salman al-Farisi RA. dan Ibnu Abbas bahwa: Ruh ditiupkan pada Nabi Adam dari kepala. Saat sampai otak, maka ia berdiri sambil mengucapkan Alhamdulillah, saat itulah Allah berfirman: “Semoga Tuhanmu merahmatimu, wahai Adam”. Ketika ruh itu sampai di kedua matanya maka Nabi Adam segera membuka matanya. Saat ruh sudah menjalar ke seluruh tubuh, Nabi Adam pun mengamati seluruh tubuhnya dengan perasaan senang, sehingga ia ingin segera bangkit berdiri meski ruh belum mencapi kedua kakinya, tentu saja ia tidak mampu berdiri sehingga memohon: “Ya Tuhanku, segerakanlah sebelum malam tiba!”

Barangkali termasuk di sini adalah ingin segera melaksanakan ibadah haji meski belum memiliki kemampuan, padahal haji hanya wajib bagi yang sudah mampu. Dampaknya adalah dengan menerima tawaran dan iming-iming lembaga riba berupa dana talangan (berbasis bunga) yang direspon dengan sangat antusias. Akhirnya antrian bukan lagi setahun dua tahun, tetapi puluhan tahun.

Ingin Memiliki Sesuatu Padahal Belum Mampu

Sifat tergesa-gesa dan lemahnya pengendalian diri dan gencarnya iklan-iklan kredit juga memunculkan fenomena lalu lintas kita yang sering macet sebagai akibat dari volume kendaraan yang semakin hari semakin banyak, tidak sebanding dengan kapasitas jalan raya. Kendaraan yang dengan mudah bisa dibeli dengan kredit. Berhutang dan mencicil yang semestinya tidak dilakukan kecuali dalam keadaan terpaksa, atau paling tidak memang membutuhkan untuk berhutang, jadi bukan sekedar berhutang demi gengsi dan kesenangan. Rasulullah SAW memberikan peringatan akan hal ini, melalui haditsnya: “Hutang adalah bendera Allah di bumi, ketika Allah berkehendak menghinakan seorang hamba, maka ia meletakkan bendera tersebut di lehernya.” (H.R. al-Hakim dari Ibnu Umar).

“Hutang bisa membuat agama tercela” (H.R. Abu Nuaim)

Bahkan Rasulullah mengajarkan agar setelah tasyahud kita berdo’a; “Ya Alla, saya sesungguhnya -memohon perlindunga-Mu dari dosa dan hutang!”

Hadits ini kiranya cukup menjadi dorongan bagi kita yang memiliki hutang untuk berdo’a secara serius kepada Allah, berfikir dan bertekad serta bertindak secepatnya untuk melunasi hutang-hutnag kita agar kita tidak termasuk orang yang di rendahkan dan agar agama kita terjaga kebaikannya.

Ingin Melakukan atau Mendapatkan Sesuatu Padahal Belum Saatnya

Dalam kaidah fiqih disebutkan: “Barang siapa tergesa-gesa pada sesuatu sebelum saatnya, maka dihukum dengan terhalang darinya.”

Shalat tidak sah dilakukan sebelum datang waktunya. Menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Id juga tidak sah sebagai ibadah kurban. Seorang yang tergesa-gesa mengambil sebagian dari harta jarahan perang sebelum dibagi, maka selain berdosa besar, juga dihukum tidak perlu dikasih jatah dalam pembagian. Seorang yang tergesa-gesa mendapatkan warisan sehingga membunuh orang yang diwarisi juga tidak berhak mendapat warisan.

Dalam kehidupan ini ada banyak hal buruk atau kurang baik yang dilakukan oleh manusia sadar ataupun tidak ataupun tidak, adalah sebagai akibat terbawa oleh sifat tergesa-gesa. Di antaranya adalah orang yang ingin cepat kaya sehingga membabi buta mencari harta tanpa peduli haram apalagi syubhat. Semoga kita semua dapat terjaga dari sifat tergesa-gesa.

Wallahu a’lam bisshawab.

Wassalamu’alakum Wr. Wb.


Like it? Share with your friends!

0
Arenugh

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *