Juara 1 Dikelas, Say No to Bullying

2 min


Di zaman era canggih ini selalu saja ada insiden-insiden pembulian dimana pun berada, sebenarnya dari dahulu kalapun sudah ada. Jujur, saya terlahir tidak dengan bakat yang ada, alias biasa-biasa saja. Dari kelas 1 sampai dengan 3 SD saya selalu dibuli oleh teman sekolah saya, yaps..betul dibuli, itulah saya. Mungkin saya berpikir saya ini dulu memang terlihat agak culun.

Masa-masa kelas 1SD  hingga kelas 3 SD

Tidak bisa dipungkiri bahwa sekolah adalah suatu keharusan, karena sekolah, kita bisa menuntut ilmu pengetahuan, pendidikan moral dan pengetahuan lainnya. Disekolah pula kita akan berinteraksi dengan guru dan teman-teman kita disekolah. Interaksi yang sering terjadi adalah antar teman dengan berbagai karakter yang mereka miliki. Namun sangat disayangkan, rasa ingin mengejek seseorang itu kuat banget. Hal itulah yang dilakukan beberapa teman disekolah saya. Tidak menutup kemungkinan hal ini juga terjadi di beberapa sekolah lain. Kejadian tersebut dinamakan pembulian, sebenarnya pembulian itu tidak jauh dari interaksi candaan, namun demikian adapula candaan yang melampui batasan hingga menyebabkan seseorang menjadi tersinggung, sakit hati, terluka. Bahkan parahnya bisa menyebabkan depresi hingga traumatik akibat ketidaknyamanan yang dilakukan oleh seseorang yang terhadap korban pembulian tersebut.

Sekali lagi saya terlahir dengan keadaan tidak memiliki bakat apapun. Pada saat kelas 1SD saya sulit untuk membaca atau mengeja beberapa tulisan dalam pelajaran. Bahkan nih..sampai bokong saya panas karena selalu digebukin atau dipukuli orang tua pada saat belajar dirumah, yang pada akhirnya membuat nilai rapor saya anjlok parah dan banyak Lombok merahnya sungguh pedas rasanya. Sudah jengah dengan belajar ditambah teman-teman yang tidak bersahabat. Kerjaanya ngeledek bahkan sampai melempari kertas kotor, gombal, hmm…dalam hati Cuma bisa ckckck…., hari demi hari seperti itu terus hingga aku naik kekelas 2 SD, dikelas ini tak ubah seperti neraka, namun disatu sisi saya berhasil baca tulisan meskipun terbata-bata. Namun tetap saja dibuli berkali-kali, hingga saya naik ke kelas 3 yang membuat situasi tambah parah disekolah. Dengan banyaknya bermunculan anak-anak berandal, yang kerjaannya ngebuli, ngolek, dan lain-lain. Jujur tidak banyak hal buli apa saja yang saya ceritakan disini, tapi memang cukup parah dan membuat sekolah jadi tidak nyaman. Jadi kelas 1 sampai dengan naik ke kelas 3 membuat saya depresi dengan kondisi-kondisi yang terjadi disekolah. Sampai pada akhirnya saya sudah sampai kelas 4.

Perubahan pada saat kelas 4 SD         

Saya masih ingat betul teman-teman yang cukup menjengkelkan diantaranya adalah: kamil, hendrik, yohan, fuad bagol, jono pendek dan lain-lain. Duh…malas saya harus ribut-ribut disekolah yang tidak semestinya. Yah namanya juga masa lalu suram yang saya kisahkan diblog ini untuk saya bagikan. Di kelas 4 inilah saya melihat kondisi yang cukup agak aneh perilaku teman-teman saya. Jadi kisahnya dikelas ini saya lebih sering bersahabat dengan buku, hampir tiap waktu saya sering baca yang membuat saya jadi familiar dengan pengetahuan yang didapat sekolah. Alhasil ujian demi ujian membuat nilai saya membaik. Dari nilai Lombok merah 3, 5, 6 jadi nilai 7. Waktu demi waktu berlalu dan terkumpul menjadikan hari dimana saya seperti bukan saya sendiri, bahkan masih bertanya-tanya. Yakni pembagian rapor, pembagian rapor ini  yang biasanya saya kena omelan karena nilai anjlok. ketika ibu saya pulang terlihat beda, mesam-mesem dan ingin mentraktir saya makan sesuatu, halo dani kamu mau tau nilaimu berapa ? nih lihat sendiri kata ibu. Ketika saya buka, ah..jebret saya terpelongok bukan main, tertulis 1 dibagian bawah nilai, perasaan bingung iya, seneng iya. Haduh…kenaikan yang cukup fantastis dari kelas yang lalu parah banget jadi juara 1. Hal ini saya rasakan ketika saya masuk sekolah, jadi beda banget perilaku teman-teman saya. Apalagi anak-anak berandal yang sering membuli saya jadi terlihat biasa dan malah selalu memberi saya jalan ketika saya lewat. Tidak menggoda saya sedikit pun. Jadi hal positif yang ingin saya bagikan disini adalah jangan perdulikan lingkungan yang menghambat untuk berjalan kedepan, tapi teruslah berjalan dan berpikir positif akan masa depan, bahwa tuhan tidak akan buta dengan kerja keras hambanya, kita hanya menanam sedangkan urusan panen biarlah tuhan yang menentukan kelayakan yang pantas kita dapatkan nanti. Terima Kasih saya ucapkan pendiri blog ini, yang aman saya bisa bagikan kisah saya dimasa lalu.


Like it? Share with your friends!

0
Rohma Dani

One Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *