Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Penjual Roti

3 min


Imam Ahmad bin Hambal adalah salah satu Imam besar dari 4 madzhab yang kita kenal yang telah menyusun kitab fiqih yang di pakai di seluruh dunia, ada pun Imam-imam tersebut antara lain:

  1. Abu Hanifah (Imam Hanafi), 80 H – 148 H
  2. Malik bin Anas (Imam Maliki), 93 H – 179 H
  3. Muhammad bin Idris asy-Syafi`I (Imam Syafi’i), 150 H – 204 H
  4. Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali), 164 H – 241 H

Sesuai judul pembahasan ini kali ini saya akan mengangkat kisah inspiratif dari banyak kisah Imam Hambali.

Nama asli beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Garis keturunan/nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim.

Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal menurut pendapat yang paling masyhur di tahun 164 H.

Baca Juga Uwais Al-Qarni Sang Pemuda Penghuni Langit

Kisah berawal dari Imam Hambali yang tidak tahu sama sekali kenapa beliau ingin sekali pergi Bashrah salah satu kota di Irak, Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Tidak lama kemudian Imam Ahmad memutuskan pergi sendiri menuju ke kota Bashrah.

Imam Ahmad bercerita “saat tiba disana telah masuk waktu Isya”, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, setelah hati saya sudah merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat”. Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, sambil melepas lelah dan karena sudah larut malam tidur di masjid, tiba-tiba marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya “kenapa syaikh, mau ngapain disini?”. (kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena imam Ahmad kelihatan sebagai orang tua).

Marbot tidak tahu kalau beliau adalah Imam Ahmad. Karena sangat tawadhu Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, siapa orang yang tak kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Pada zaman itu belum ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Dijawab oleh Imam Ahmad “saya hanya ingin istirahat, saya musafir.” Marbot pun lebih keras lagi melarang, “tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid !“.

Imam Ahmad bercerita beliau didorong-dorong oleh marbot itu dipaksa keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid. Lalu beliau tidur di teras masjid.

Imam Ahmad keluar dan berbaring di teras Masjid, kemudian Marbotnya datang lagi, sambil marah-marah kepada Imam Ahmad. “Kamu mau apa lagi syaikh?” Kata marbot. “Saya hanya mau tidur, saya musafir” kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata, “di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, “saya didorong-dorong sampai jalanan”.

Tidak jauh masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang sibuk membuat adonan, pedagang tersebut juga melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Ketika imam Ahmad sudah keluar dari area masjid, penjual roti itu memanggil dari jauh, “mari syaikh, anda boleh nginap ditempat saya, saya punya tempat untuk istirahat, meskipun kecil”.

Imam Ahmad berkata “baik” kemudian Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini mempunyai perilaku khas, kalau di ajak bicara dia menjawab. Kalau tidak, dia lanjutkan membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, “Astaghfirullah“.

Orang itu terus melafalkn istighfar pada saat memberi garam, memecah telur, mencampur gandum astaghfirullah. Dia senantiasa membiasakan terus ber istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Karena penasaran Imam Ahmad bertanya “Kamu lakukan ini sudah berapa lama?” Orang itu menjawab, “sudah sangat lama syaikh, sejak saya mulau berjualan roti ini selama 30 tahun“.

Imam Ahmad bertanya “maa tsamarotu fi’lik?”, “apa hasil dari perbuatanmu ini?”

Pedagang roti pun menjawab “berkat wasilah istighfar ini maka tidak ada satupun hajat yang saya minta, melainkan pasti diijabah oleh Allah. semua yang saya minta Allah, segera diwujudkan diwujudkan.”

Nabi Shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda “siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya”.

Tak lama kemudian orang itu melanjutkan perkataannya “semua di ijabah oleh Allah kecuali satu yang belum Allah beri.”

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya “apa itu?”

Kata pedagang roti “saya selalu berdoa memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal”.

Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir “Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, ternyata karena istighfarmu.. ”

Penjual roti itu takjub dan kaget, seraya memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad…

Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad saking bangga dan terharunya…

Mungkin apa yang di lakukan seorang tukang roti ini sudah di cap bid’ah oleh segelintir kelompok saat ini karena apa yang beliau amalkan tidak di amalkan oleh Nabi, akan tetapi amalan ini tidak bertentangan dengan syari’at Islam, maka apa yang dilakukan oleh tukang Roti tersebut adalah amalan yang baik. Bahkan Imam Ahmad pun tak melarang dan bahkan ta’jub akan keisitiqomahan pedagang roti tsb mendawamkan istighfar dalam ‘setiap keadaan’.

Demikian kisah inspirasi ini, mudah-mudah kita ibrah dari kisah Imam Ahmad, dan menjadi tambahan amal akhirat kita, Aamiin…

Sumber: Manaqib Imam Ahmad Bin Hambal oleh Abul Faraj Ibnu Al-Jauzi


Like it? Share with your friends!

0
Arenugh

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *