MUSH’AB bin UMAIR – Duta Islam Pertama

4 min


Mush’ab bin Umair adalah seorang remaja Quraisy terkemuka, berwajah paling tampan,  seorang yang penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.

Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, seorang yang anak muda di Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Mungkinkan kiranya seorang anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, bisa berubah sedemikian rupa menjadi buah cerita tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanannya?

Memeluk Islam

Suatu hari Mush’ab mendengar berita mengenai Muhammad SAW., yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai da’i  yang mengajak ummat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Di antara berita yang didengarnya adalah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang jauh dari gangguan kaum Quraisy, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam,  kemudian setelah mendengar hal tersebut karena didorong kerinduan dan tekadnya yang kuat, maka pergilah ia ke rumah Arqam untuk ikut berkumpul bersama Rasulullah dan sahabatnya tempat dimana Rasulullah menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajak untuk beribadah kepada Allah SWT.

Baru saja Mush’ab duduk, seketika itu juga ayat-ayat Al-Qur’an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Pada saat itu Mush’ab pun terpesona dengan untaian kalimat Rasulullah yang tepat sasaran pada kalbunya. Hampir saja pemuda itu terangkat dari tempat duduknya karena merasa haru, dan serasa terbang karena gembira. Kemudian dengan berkat dan kasih sayang Rasulullah di rangkul ia, hingga tiba-tiba hatinya menjadi tenang dan damai, dan langsung memeluk Islam. Pemuda yang telah Islam dan Iman nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas, berlipat ganda dari ukuruan usianya, dan mempunyai kepekaan hati yang mampu merubah jalan sejarah.

Pertentangan Dengan Ibundanya

Khunas binti Malik ibunda Mush’ab adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. Ia wanita yang disegani bahkan ditauti.

Pada saat Mush’ab mengikuti ajaran Rasul dengan memeluk Islam, tidak ada satu kekuatan pun yang bisa membuat ia takut dan dikhawatir selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk kota Mekah beserta para pembesar dan padang pasirnya berubah menjadi satu kekuatan yang menakutkan yang ingin menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggap enteng. Tapi tantangan dari ibunya tidak bisa dianggap kecil. Ia pun berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Tetapi di kota Mekah tiada satu rahasiapun yang dapat disembunyikan, apalagi dalam suasana seperti itu. Akhirnya ibundanya pun mengetahuinya, kemudian berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan keyakinan kemudian dibacakanlah ayat-ayat Al-Qur’an yang pernah di sampaikan Rasulullah untuk membuka hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.

Hati ibunya yang sangat keras, membuat ibunya pun semakin marah dan hampir membungkam puteranya dengan tamparan keras, namun ketika melihat cahaya yang membuat wajah Mush’ab berseri cemerlang dan semakin berwibawa, berhasil menghentikannya tindakan ibunya terhadapnya, tetapi tetap saja karena tuntutannya untuk membela apa yang telah di anutnya selama ini, maka puteranya di beri hukuman dengan jalan lain, yaitu dengan mengurung dan memenjarakan dengan amat rapat di tempat terpencil.

Demikian Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya, di lebih memilih hidup miskin dan sengsara, tetapi mempunyai jiwa yang dihiasi dengan ‘aqidah suci dan cemerlang berkat Nur Ilahi, yang telah merubahnya menjadi seorang manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.

Mendapat Tugas Menjadi Duta Rasulullah ke Madinah

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan tugas yang maha penting, yakni menjadi duta Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada kaum Anshar yang telah beriman kepada Allah dan Rasul. Di samping itu juga mengajak orang lain untuk menganut Agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul.

Sebenarnya banyak para sahabat pada saat itu yang lebih tua, lebih punya pengaruh bahkan lebih dekat hubungan kekeluargaanya dengan Rasul, namun Rasul tetap menentukan pilihannya kepada Mush’ab. Rasulullah sangat menyadari bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, kota yang tak lama lagi akan menjadi kota hijrah, pusat para da’i, tempat berkumpulnya penyebar Agama dan Pembela Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi pekerti yang luhur. Dengan penuh sifat zuhud, jujur dan bersungguh-sungguh untuk Agama Allah, ia berhasil melunakkan dan menawan hati para penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Sesampainya di Madinah, Mush’ab mendapati hanya tidak lebih dari dua belas orang yang telah masuk Islam. Tetapi hanya beberapa bulan kemudian, menigkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah atas dirinya adalah tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tidak melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira dan mengajak manusia mencapai hidayah Allah. Akhlaqnya mengikuti Rasulullah yang diimaninya.

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang layak diperolehnya. Hari, bulan dan tahun berganti, akhirnya Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

Gugur Di Medan Perang

Ibnu Sa’ad pernah berkata: Diceritakan oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya ia berkata:

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Kemudian musuh berkudapun datang, namanya Ibnu Qumaimah, lalu musuh itu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambal membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalau dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambal mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu musuh berkuda tersebut menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkan kedadanya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh”.

Mush’ab gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Dan hal itu dialaminya setelah ia dengan keberaniannya yang luar biasa mengarungi peperangan dengan penuh pengorbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tak terbatas kepada Rasulullah dan dia sangat cemas memikirkan akan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, ia menghibur dirinya dengan berucap bahwa: “Muhammad SAW, tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya juga telah didahului oleh para Rasul pendahulunya”.

Dikutip dari kitab Rijal Haular Rasul, Karya Khalid Muhammad Khalid.


Like it? Share with your friends!

0
Arenugh

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *