Sayangilah Kedua Orang Tua Sebelum Kehilangannya

2 min


Peluklah ayah dan ibu saat mereka masih ada dan habiskan waktu bersama mereka sebaik-baiknya, karena kita tidak pernah tahu kapan akan kehilangan mereka. Waktu tidak akan bisa diputar kembali, maka hargai orangtua selagi mereka masih hidup dan sehat. Saat masih di dalam perut ibu, kedua orangtua sangat menantikan diri kita lahir ke dunia. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anak yang soleh dan solehah serta berbakti kepada kedua orangtua. Saat melahirkan, ibu merasakan sakit yang amat sangat, menangis kesakitan, pengorbanannya antara hidup dan mati. Mungkin jika diberi pilihan oleh Tuhan antara menyelamatkan nyawanya atau menyelamatkan bayinya, pastilah Ia akan memilih untuk menyelamatkan bayinya. Ketika seorang bayi telah lahir ke dunia betapa bahagianya wajah orangtua melihat bayinya sudah lahir ke dunia dengan selamat.

Renungilah Sejenak . . .

    Seiring berjalannya waktu, bayi tersebut sudah bertumbuh besar, dari sini kisah perjalanan hidup saya dimulai. Waktu itu, saya sudah memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). Orangtua selalu mendidik dengan perhatian dan kasih sayang. Saya adalah anak ketiga dari bertiga bersaudara, iyaa anak terakhir.. yaa bisa di bilang anak kesayangan seperti orang lain bilang.  Keluarga saya bukan tergolong kaya, tapi cukup. Jadi tidak bisa dikatakan kaya atau kekurangan. Bapak adalah satu-satunya tulang punggung di keluarga. Bapak menjabat kepala keuangan sebuah perusahaan di Jakarta. Alhamdulillah, meskipun bapak bukan seorang yang berpenghasilan besar tapi entah bagaimana allah mencukupkan segala sesuatunya di keluarga saya. Setiap akhir pekan, bapak selalu mengajak keluarga bepergian ke Puncak atau Sukabumi dengan mobil pickupnya. Kami sekeluarga menikmati perjalanan liburan ini. Setelah sampai tujuan, Bapak membuka kaca mobilnya dan berkata kepada saya, udara di luar dingin dan segar. Lalu saya meminta duduk di belakang bersama abang, tetapi ibu tidak mengizinkannya. Setelah banyak drama meminta duduk di belakang akhirnya diperbolehkan, namun hanya sebentar saja. Tak terasa, sampailah di tempat tujuan dan kami sangat menikmati suasana di Puncak. Canda tawa yang begitu hangat dan saat itu hanya rasa syukur pada Tuhan, Alhamdulillah masih memiliki keluarga yang lengkap dan utuh. Walaupun bapak terkena penyakit stroke ringan, namun saya masih merasakan kehangatan kasih sayang kedua orangtua.

Liburan telah usai, saatnya kembali ke rutinitas sekolah..

   Alhamdulillah saya memiliki sahabat dan teman baik di sekolah. Masa kecil itu sangat indah, masih belum ada beban yang berat layaknya dunia orang dewasa. Menurut kata teman, bisa dikatakan bahwa saya adalah orang yang ceria. Sampai tiba saatnya ada kejadian yang mengagetkan. Seusai pulang sekolah, saya menerima kabar tidak enak, bahwa bapak masuk ke Rumah Sakit. Ibu dan kakak mengajak saya ke rumah sakit untuk menjenguk. Sesampainya di sana, saya melihat wajah ibu sangat cemas. Setelah diperiksa, dokter menyampaikan kepada ibu bahwa bapak terkena stroke yang parah. Keadaannya sudah tidak bisa lagi bicara, bibirnya yang mencong, tidak bisa berjalan kembali, semua anggota badan susah untuk digerakkan. Ibu terlihat sangat terpukul saat mendengar dokter menceritakan keadaan bapak. Saya dan kakakpun ikut menangis.

“Mah, Bapak kenapa?”, tanya saya sambil menahan air mata. Ibu menjelaskan kepada saya dengan lirih sambil menangis. Seketika itu, saya langsung memeluk ibu erat. Saya yang masih duduk di kelas 4  SD merasa sangat terpukul saat mendengar keadaan bapak. Selama sebulan kami terus mendampingi bapak, namun keadaan bapak tidak kunjung membaik malah semakin parah, badannya mulai kurus, lemah, dan sangat tidak berdaya.

Saat malam takbiran tiba, saya diajak oleh om dan tante untuk jalan-jalan, karena mereka sangat sedih melihat saya yang sangat terpukul. Ibu saya juga menyetujui ajakan om tante saya. Dan kakak saya membawa saya pulang ke rumah untuk beberes pakaian untuk berpergian. Tidak lama kemudian, ibu saya menelphone kakak saya. Saya melihat wajah kakak saya sangat sangat sedih, setelah menutup telephonenya. Kakak saya memeluk saya, saya pun bertanya. Ada apa ka? Kenapa wajah kakak sedih? Kakak saya mejelaskan kepada saya pelan pelan, bahwa bapak sudah tidak ada. Bapak sudah meninggal, sudah tidak ada di sisi kita lagi. Saya pun langsung menangis terisak isak.
beberapa jam kemudian ada sirine ambulan ke rmh, kata kaka bapak sudah di antarkan ke rumah dek. Besok pagi sehabis orang orang pulang sholat ied idul fitri, bapak kita akan di makamkan. Di situ saya menangis sangat sangat terisak isak sambil memeluk bapak yang sudah dingin badannya.

Nah untuk semua sayangi lah kedua orang tua kalian, jangan sampai menyesal !!

Penyesalan itu datangnya belakangan.


Like it? Share with your friends!

0
Kiki Amalia

One Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *