ZAID bin TSABIT – Penghimpun Kitab Suci Al-Qur’an

4 min


Bila kita saat ini membawa Al-Qur’an, dan selanjutnya membaca dan mempelajari setiap lembar demi lembar, surat demi surat, ayat demi ayat, maka ketahuilah bahwa di antara orang-orang yang telah berjasa besar, hingga kita bisa mengenal sebuah karya besar ini, orang tersebut bernama Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit merupakan seorang yang mempunyai andil sangat besar yang telah memimpin dalam proses menghimpun, menyusun, menertibkan dan memelihara kesucian Al-Qur’an sehingga kita dapat membacanya sampai saat ini.

Asal-Usul Zaid

Beliau bernama Zaid bin Tsabit bin adh-Dhahak al-Anshari. Ia berasal dari Bani Najjar seorang Anshar dari Madinah. Beliau seorang anak yatim, usia nya baru sebelas tahun ketika Rasulullah datang hijrah dari Mekah ke Madinah. Beliau ikut memeluk Islam bersama keluarganya yang lain yang telah memeluk Islam, dan ia beruntung mendapat keberkahan karena dido’akan oleh Rasulullah SAW.

Kegigihan Zaid

Diusianya yang masih kecil, ia dibawa bersama-sama orang dewasa untuk ikut perang Badar tapi Rasulullah menolaknya, karena umur dan tubuhnya masih kecil. Di perang Uhud ia datang lagi bersama teman sebayanya. Dengan memohon agar dapat diterima Rasul dalam barisan Mujahidin, bahkan para keluarga mereka lebih gigih lagi berharap agar diterima Rasulullah.

Rasul memandangi mereka dengan pandangan terima kasih. Kelihatannya beliau masih keberatan membawa serta mereka dalam barisan membela dan mempertahankan Agama Allah. Tampilah salah seorang di antara mereka yaitu Rafi’ bin Khudaij, dengan membawa tombak dan memainkannya dengan gerakan lihai, seraya berkata: “Sebagaimana anda lihat ya Rasul, aku adalah seorang pelembar tombak yang mahir, maka mohon izinkan aku untuk ikut!” Rasulullah pun memngizinkannya.

Melihat temannya maka tampillah Samurah bin Jundud, dengan sopan diperlihatkan kedua lengannya yang kekar, salah satu keluarganya berucap: “Samurah mampu menjatuhkan badan orang yang lebih tinggi sekalipun!” Akhirnya Rasulullah pun mengizinkan keduanya. Keduanya memang sudah berumur 15 tahun dan lebih tumbuh kuat dan besar di antara teman-temannya.

Dari kelompok itu tersisa enam orang, di antaranya Zaid binTsabit dan Abdullah bin Umar. Mereka terus berusaha dengan segala upaya untuk bisa ikut, mereka terus memohon hingga menangis sambil menunjukkan otot-otot lengan mereka.  Tetapi karena usia mereka masih muda dan tubuh mereka yang masih kecil, maka tetap tidak dizinkan, tapi Rasulullah menghibur mereka dengan menjanjikan untuk ikut serta di kesempatan berikutnya.

Akhirnya mereka mendapat giliran ikut dalam barisan Rasulullah sebagai prajurit pembela Agama Allah dalam perang Khandaq, tepatnya pada tahun kelima hijriyah.

Kepribadian beliau sebagai seorang muslim terus tumbuh dengan menakjubkan, ia bukan hanya pandai sebagai pejuang, tetapi juga sebagai ilmuwan dengan berbagai macam kelebihan. Ia tak henti-hentinya menghafal Al-Qur’an, mencatat wahyu dari Rasul, dan terus mingkatkan ilmu agamanya. Zaid juga di perintahkan oleh Rasul untuk mempelajari bahasa asing agar dapat membantu Rasulullah untuk menyampaikan da’wah Islam ke luar negeri melalui surat-surat yang dikirimkan kepada raja-raja dan kaisar-kaisar dunia, dan itu dilakukannya dalam waktu yang singkat. Sejak saat itu Zaid menjadi lebih cemerlang dan dapat menempatkan diri dengan lingkungan baru pada kedudukan yang tinggi, hingga ia pun sangat dihormati dan dihargai di lingkungan masyarakat Islam.

Para Penghafal Qur’an

Al-Qur’an diturunkan dalam kurun waktu 21 tahun, dimana Al-Qur’an diturunkan ayat demi ayat, surat demi surat sesuai dengan keadaan dan sebab-sebabnya, maka di situlah ada sekelompok sahabat Rasulullah, yang menuangkan minat dan perhatian mereka untuk menghafalkan, ada juga yang menulis untuk dapat terus memelihara ayat-ayat Al-Qur’an.

Al-Qur’an tidak turun sekaligus, karena Qur’an bukanlah kitab yang dikarang atau artikel yang disusun. Sesungguhnya ia adalah dalil dan pedoman hidup ummat yang dibangun secara alamiah, sedikit demi sediki, hari demi hari, hingga meningkatkan aqidah dan keyakinan di hati dan akal pikiran, serta menuntun manusia untuk mencapai ketaatan yang sempurna sesuai kehendak Allah.

Tidak sedikit ahli dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an yang mencatat dan menulis kandungan Al-Qur’an, di antaranya ialah Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas, dan salah satunya adalah manusia dengan pribadi mulia yaitu Zaid bin Tsabit ra.

Setelah sempurnanya turun wahyu, kemudian Rasulullah mengulang kembali bacaanya kepada Ummatnya, sesuai dengan susunan surat-surat dan ayat-ayatnya. Rasulullah pun wafat, pada saat itu para kaum Muslimin disibukkan dengan peperangan menghadapi kaum murtad, dalam pertempuran Yamamah (perang menghadapi nabi palsu, Musailimah al-Kadzab). Pada peperangan ini banyak korban berjatuhan sebagai syuhada, dari golongan ahli pembaca dan penghafal Al-Qur’an. Kondisi ini membuat Umar bin Khattab khawatir, ditambah lagi gelombang pemurtadan yang terus meningkat.

Akhirnya Umar menghadap Khalifah Abu Bakar Shiddiq ra., dengan gigih ia memohon agar di kumpulkan para pembaca dan penghafal untuk segera menulis dan menghimpun Al-Qur’an sebelum mereka gugur atau syahid. Khalifah pun shalat istikharah untuk memohon petunjuk, lalu bermusyawarah bersama para sahabat dan kemudian memanggil Zaid bin Tsabit, seraya berkata: “Kamu adalah seorang anak muda yang cerdas, kami tidak meragukan kamu!”. Lalu diperintahkan lah beliau untuk segera menghimpun Al-Qur’an, dengan meminta bantuan para penghafal dan ahli dalam hal ini.

Zaid mulai melakukan tanggung jawab besar ini, ia memegang amanah masa depan ummat muslim. Zaid sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, ia tak henti-henti menghimpun ayat demi ayat, surat demi surat yang di dapat hafalan dan tulisan-tulisan para sahabat. Ia mengecek,  menelaah dan menyusun satu dengan lainnya, hingga akhirnya ia berhasil menghimpun Al-Qur’an dengan tersusun rapi.

Zaid berkata seraya ia melukiskan betapa sulit dan besar tanggung jawabnya memikul tugas besar ini: “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, akan lebih mudah bagiku dari perintah mereka menghimpun Al-Qur’an.

Penyeragaman Bacaan Al-Qur’an

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan ra. jumlah ummat muslim semakin hari semakin bertambah. Hal itu terjadi di berbagai daerah diluar Mekah dan Madinah. Tentu saja ini sangat positif. Namun, hal ini menimbulkan masalah baru, yakni timbulnya perbedaan bacaan terhadap Al-Qur’an. Dan mereka belum mengetahui variasinya. Sehingga mereka menyangka orang yang berbeda bacaan Al-Qur’annya membuat bacaan baru.

Kemudian datanglah sahabat Hudzaifah ibnul Yaman menghadap Khalifah Utsman bin Affan dan memohon untuk membuat kebijakan menyeragamkan bacaan Alquran. Kemudian Khalifah Utsman shalat istikharah dan berdiskusi dengan para sahabat akhirnya ditunjuklah Zaid bin Tsabit sebagai penulisnya dan Said bin al-Ash yang membacakannya, karena menurut sahabat ialah orang yang dialeknya paling mirip dengan Rasulullah.

Zaid bin Tsabit lalu mengumpulkan sahabat-sahabat penulis dan penghafal lainnya untuk dapat membantunya. Para sahabat pun membawakan beberapa salinan Alquran yang ada di rumah Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khattab ra., yang selama ini dijaga dengan baik di rumahnya. Para sahabat saling bahu-membahu dalam peristiwa bersejarah ini. Jika terjadi perbedaan, maka mereka selalu berpegang kepada petunjuk dan pendapat Zaid yang mereka jadikan sebagai tolak ukur.

Dan sekarang kita dapat menikmati membaca Al-Qur’an dengan mudah, dan banyak juga yang di lantunkan dengan berbagai macam nada. Hampir tidak terbayangkan oleh kita bagaimana sangat sulitnya mereka yang dipilih oleh Allah dalam menghimpun dan menyusun serta memeliharanya. Sungguh, tidak ada bedanya kedasyatan yang mereka alami jika dibandingkan dengan para pejuang yang mati syahid untuk mengukuhkan berdirinya Agama yang benar di muka Bumi ini, untuk melenyapkan kegelapan menuju kehidupan yang terang benderang.


Like it? Share with your friends!

1
Arenugh

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *